SEJARAH DESA TAMBLANG
31 Januari 2017 19:18:39 WITA
SEJARAH SINGKAT DESA TAMBLANG
Berdasarkan Prasasti Sembiran A III Nomor 351 yang mana tertera angka tahun pembuatan prasasti tersebut yaitu tahun 938 Çaka (1016 Masehi), alkisah ada suatu kerajaan kecil yang berlokasi di Desa Julah yang merupakan salah satu desa yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Provinsi Bali. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang ratu yang bernama Ratu Sri Adnyadewi Dharmmavansavarddhana yang merupakan ratu yang bertahta menggantikan raja Bali kuno sebelumnya yaitu Raja Udayana yang bergelar Sang Raja Maruhani Sri Dharmodayana Warmadewa yang merupaka raja keturunan dari bangsa Warmadewa yang memiliki pusat kerajaan di Pejeng/Bedulu yang saat ini dikenal dengan wilayah Bedahulu dengan kerajaan yang bernama Singamandawa. Wilayah kekuasaan kerajaan ini meliputi daerah sekitar pusat kerajaan sampai jauh kepedalaman yaitu desa yang bernama Bayan Besti yang saat ini dikenal dengan Desa Adat Bayad, Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Bayan Besti (Bayad) pada saat itu sudah merupakan desa (daerah pemukiman) penduduk yang tata pemerintahannya sudah sangat teratur berkat pimpinan seorang warga pasek yang diutus oleh Dalem Ketut Ngulesir untuk pergi ke Bali Utara dalam rangka menyatukan penduduk Bali Asli (Bali Aga). Pasek yang diutus tersebut kemudian menetap di Desa Bayan Besti (Bayad) dan langsung mengemban masyarakat disana, karena itulah Ketut Pasek itu terkenal dengan nama Ki Pasek Bayad.
Kemudian diceritakan bahwa Ki Pasek Bayad ini disamping sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Desa Bayan Besti (Bayad), beliau juga terkenal sebagai Balian Sakti dan keloktah, serta sangat dermawan. Pada suatu ketika timbullah suatu huru-hara di pusat Kerajaan Julah karena kerajaan tersebut diserang oleh sekelompok bajak laut yang mengakibatkan kerajaan mengalami hancur dan penduduknya cerai berai, kekacauan ini bahkan merambat sampai ke Desa Bayad. Akibat dari serangan bajak laut yang sudah berhasil mendesak pasukan sampai ke Bayad, para bajak laut tersebut memutuskan untuk membuat markas dan memusatkan kekuatannya di Desa Bayad. Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Ki Pasek Bayad sebagai pucuk pimpinan di Desa Bayad merasa khawatir akan keselamatan rakyatnya (pengikutnya) sehingga beliau memerintahkan kepada para pengikutnya untuk meninggalkan Desa Bayad, dan memberikan instruksi untuk melarikan diri menuju ke arah Barat menelusuri hutan belantara.
Pada suatu hari mereka sampai disuatu tempat yang dilalui oleh sebuah sungai yang sangat besar dan airnya deras yang mana dari kondisi alam serta cerita asal usul Desa, sungai itu disinyalir adalah Tukad Daya (sungai yang memisahkan wilayah Desa Tamblang dan Desa Bontihing). Hal ini diperkuat dengan adanya Pura Dalem Kanginan yang berlokasi di Desa Bontihing dimana pengemong/ pemuja pura tersebut adalah orang-orang yang berasal dari kepehan/bagian Desa Bayad. Bahkan sampai saat ini banyak warga Desa Tamblang yang masih melakukan sembahyang di lokasi Pura tersebut ketika ada piodalan di Pura tersebut.
|
PURA DALEM KANGINAN Prakiraan tempat rombongan mengalami kondisi sakit
|
Rombongan pengikut Ki Pasek Bayad berusaha menyeberangi sungai tersebut dengan usaha yang keras melewati aliran sungai yang deras dan setelah sampai di seberang sungai rombongan memutuskan untuk beristirahat karena merasa situasi sudah aman dari kejaran bajak laut. Akibat menempuh perjalanan yang sangat jauh banyak anggota rombongan yang mengalami sakit, maka diutuslah kemudian salah satu dari anggota rombongan untuk kembali ke Desa Bayad guna meminta bantuan obat-obatan kepada Ki Pasek Bayad. Dengan kekuatan serta pengetahuan yang dimiliki oleh Ki Pasek Bayad maka diberikanlah obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit yang dialami oleh pengikutnya dan setelah obat-obatan tersebut diberikan kepada utusan tersebut maka kembalilah beliau ke tempat rombongan yang ditinggalkan.
|
LOKASI PURA BEJI PEMELISAN (prakiraan lokasi hilangnya obat) |
Pada saat utusan tersebut menyeberangi sungai yang dahulunya dilewatinya tersebut maka terjadilah musibah, sehingga obat-obatan tersebut terlepas dari tangannya dan hilang. Dengan histeris dan bercampur rasa panik, utusan tersebut berteriak “TAMBA ILANG, TAMBA ILANG, TAMBA ILANG, ……………” (obatnya hilang, obatnya hilang, obatnya hilang, …………). Karena merasa takut bercampur khawatir serta didorong oleh rasa tanggung jawab atas keselamatan rombongannya maka utusan tersebut tidak mau lagi kembali ke Desa Bayad untuk meminta obat, tetapi beliau bertekad untuk mendapatkan itu dengan caranya sendiri.
|
LOKASI PURA TAMAN SARI (prakiraan lokasi semadi) yang berada di wilayah SENTUGI |
Di suatu tempat yang sepi utusan itu bersemadi (bertapa) untuk mohon bantuan Ida Hyang Widhi Wasa serta mengucapkan kaul (sesangi) bahwa apabila beliau mendapatkan kembali obat tersebut beliau berjanji akan menetap pada suatu tempat dimana obat itu ditemukan. Tempat utusan itu bersemadi (bertapa/beryoga) disebut Santa Yogi (Tempat Bersemadi yang Suci), dari kata tersebut lama kelamaan pengucapannya berubah menjadi Sentugi yang dikenal sampai saat ini. Prakiraan lokasi tapa semadi yang dilakukan oleh utusan tersebut adalah di lokasi Pura Taman Sari yang mana tempat tersebut adalah tempat yang paling tinggi disekitaran lokasi hilangnya obat tersebut. Dengan rahmat Ida Hyang Widhi Wasa obat yang hilang tersebut kembali diperoleh, kemudian dibawalah oleh utusan tersebut dan diberikan kepada rombongan yang mengalami sakit. Mujizat terjadi dan atas rahmat Ida Hyang Widhi Wasa, obat yang diberikan oleh Ki Pasek Bayad tersebut dapat menyembuhkan seluruh anggota rombongan yang sedang sakit. Kegembiraan mereka bertambah setelah mereka menerima berita bahwa keadaan di Julah maupun di Bayan Besti sudah berangsur-angsur aman kembali, maka rombongan pelarian itu kembali lagi ke Desa Bayad. Sesampai di Desa Bayad disampaikanlah segala peristiwa yang dialami oleh rombongan serta diceritakan pula peristiwa tentang hilangnya obat-obatan tersebut. Ki Pasek Bayad sangat senang mendengarkan cerita tersebut dan sangat setuju akan rencana pembayaran kaul/naur sesangi dari utusan itu untuk kembali dan membuat pemukiman baru di tempat peristiwa hilangnya obat-obatan tersebut. Maka diperintahkanlah utusan itu untuk kembali ke tempat peristiwa hilangnya obat tersebut bersama-sama rombongannya untuk membuat pemukiman baru. Karena utusan tersebut adalah utusan Pasek, yang tugasnya adalah memegang/mengendalikan pemerintahan maka diangkatlah utusan tersebut sebagai kepala rombongan dan langsung nantinya sebagai kepala pemerintahan. Untuk membantu tata upacara adat maka diutuslah seorang pasek keturunan Bendesa yang diberi tugas untuk menjabat sebagai Bendesa (Penyarikan).
Diperingatkan pula oleh Ki Pasek Bayad untuk memperingati/mengenang tempat peristiwa hilangnya tamba atau obat itu, maka tempat pemukiman tersebut harus diberi nama Tamba Hilang. Dari kata Tamba Hilang inilah maka lama kelamaan berubah ucapannya menjadi Tamblang seperti saat ini. Dinasehati pula oleh Ki Pasek Bayad agar penduduk Desa Tamba Hilang (Tamblang) untuk seterusnya tidak melupakan asal usulnya yaitu di Desa Adat Bayad Desa Tajun. Dengan adanya petuah seperti itu, maka sehubungan dengan kondisi yang ada di Desa Bayad sudah terbangunnya Pura Puseh, bila nanti di Desa Tamblang membangun Pura Kahyangan Tiga tidak diperkenankan sekali membuat Pura Puseh baru, jadi jika mau mebakti kepada Batara Wisnu (yang berstana di Pura Puseh) krama Desa Tamblang harus datang sendiri ke Pura Puseh yang ada di Desa Bayad. Diingatkan pula karena Desa Tamblang sebenarnya pindahan dari Bayad selanjutnya disebut kepehan Bayad, sedangkan Bayad sendiri bernaung di bawah Pemerintahan Kerajaan Julah, maka Krama Desa Tamblang nantinya berhak secara penuh untuk menggunakan tempat-tempat suci seperti puncak Tunggal (pura Bukit Sinunggal) yang berada di Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan dan Ponjok Batu yang berlokasi di Desa Pacung Kecamatan Tejakula sebagai tempat untuk pemujaan kepada Ida Hyang Widhi Wasa.
Begitulah perintah Ki Pasek Bayad dan kesemuanya itu ditaati oleh kedua keturunan Pasek yang diberikan tugas untuk memegang kekuasaan atau pemerintahan dan memegang pelaba desa (Bendesa/Penyarikan) setelah berdirinya Desa Tamblang.
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Tim Pembina Posyandu Kabupaten Buleleng Laksanakan Pembinaan Lomba Telajakan di Desa Tamblang
- VISI MISI DAN ARAH PEMBANGUNAN DESA
- Surat Keputusan Perbekel Nomor 6/Skep.Tbl/2026
- Desa Tamblang Sambut 12 Mahasiswa KKN-PPM Universitas Udayana Periode XXXIII
- Desa Tamblang Sambut 12 Mahasiswa KKN-PPM Universitas Udayana Periode XXXIII
- Tingkatkan Kapasitas Satlinmas, Kecamatan Kubutambahan Gelar Pelatihan Dasar Linmas Tahun 2026
- Maklumat Layanan PPID














